PEMUDA MUSLIMIN INDONESIA

memperkokoh keislaman dan keindonesiaan menuju peradaban mulia

Kamis, 28 Januari 2021

Hari Ini Demokrasi Kita Dibajak



Jakarta, pemudamuslimin-news.com —
Prinsip dasar atau inti dalam demokrasi adalah kebebasan. Freedom of speech, freedom of want dan freedom of religion. Karenanya perbedaan mendasar negara demokrasi dengan bukan adalah bagaimana negara merespon atas perbedaan.

Banyak negara mengumandangkan sebagai negara demokrasi. Negara yang menghormati perbedaan. Namun, praktiknya justru malah menjegal, mengekang dan membajak demokrasi melalui akses kekuasaan.

Fenomena ini ditandai dengan praktik pembungkaman terhadap kebebasan, memanfaatkan kekuasaan untuk membungkam kebebasan berekspresi, berkumpul atau menghantam pluralisme melalui pluralisme.

Menanggapi hal tersebut, Evick Budianto, SE, Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Pemilu Pemuda Muslimin Indonesia (LP3MI) , mengatakan bahwa bangsa Indonesia tentu saja tidak ingin terjebak dalam fenomena terjebaknya demokrasi.

“Fenomena dimana demokrasi dibajak untuk membungkam perbedaan, atau fenomena menghantam pluralisme atas nama pluralisme,. Tentu saja bangsa kita tidak ingin terjebak dalam fenomena terbajaknya demokrasi”. Kata Evick Budianto saat dihubungi redaksi Pemudamuslimin-news.com (28/01/2021).

Untuk itu, Evick Budianto menekankan pentingnya menjaga demokrasi di Indonesia. “sikap-sikap yang dapat menjerumuskan bangsa dan pemerintahan kita kepada pembungkaman kebebasan berkespresi harus diredam. Sebab kita sudah terlanjur sepakat untuk berdemokrasi”. Tambah, Evick.

Evick mengingatkan bahwa kebebasan di Indonesia dilindungi konstitusi, karenanya sikap-sikap pembungkaman kebebasan berekspresi haruslah diredam di dalam negara demokrasi.

“Jelas sekali bahwa konstitusi kita menghargai kebebasan berserikat, berkumpul dalam rangka menyampaikan secara bebas pandangan dan sikap baik lisan maupun tulisan”. tegasnya.

Spirit Kebebasan

Dalam konteks kebebasan berbicara, Evick mengutip pernyataan Voltaire seorang filsuf perancis.

“Ada sebuah prinsip menarik, yang konon disampaikan oleh Voltaire seorang filsuf perancis yang hidup dalam abad pencerahan mengatakan bahwa “Aku benci dengan apa yang kamu tuliskan (katakan), tapi saya akan mempertaruhkan hidupku agar kamu dapat menuliskannya” (je déteste ce que vous écrivez, mais je donnerai ma vie pour que vous puissiez continuer à écrire)”. Kutip Evick.

Menurut Evick, Spirit pernyataan tersebut sangat menggugah. Merefleksikan sebuah semangat dasar demokrasi yang mendalam. Sebuah semangat yang sangat bernilai tinggi mengenai penghormatan atas kebebasan berbicara.

“Namun, jelas pelajaran adiluhung itu dalam praktiknya tidak mudah untuk dilakukan. Sepintas memanglah mudah, namun tidak sedikit mereka yang mengaku mencintai kebebasan dan menghargai perbedaan justru berupaya menutup-nutupi atau bahkan menghalanginya”. Jelas Evick.

Evick menambahkan bahwa pembeda mendasar sebuah rezim demokrasi dengan rezim bukan demokrasi adalah seberapa besar rezim dapat merespon perbedaan pandangan sebagai sesuatu hal yang lumrah.

“Pembeda mendasar sebuah rezim demokrasi dengan rezim bukan demokrasi adalah seberapa besar rezim dapat merespon perbedaan pandangan sebagai sesuatu hal yang lumrah”. ungkapnya.

Sikap ini didasari pada sebuah keyakinan bahwa inti demokrasi adalah penghormatan terhadap kebebasan berbicara (freedom of speech), kebebasan untuk mengupayakan kehidupan (freedom of want) dan kebebasan menjelankan keyakinan (freedom of religion). Tutup Evick.

Share:

Majelis Syuro XIII

Majelis Syuro XIII

Official Account Media Sosial

Kabar Viral

Bersama Lawan Corona

PILIHAN REDAKSI

Muhtadin Sabili Ditetapkan Jadi Ketua Umum PB Pemuda Muslimin Lewat Aklamasi

Bogor, PemudaMuslimin-News.Com — Forum tertinggi organisasi Majelis Syuro (Kongres Nasional) Pemuda Muslimin Indonesia  menyepakati dan m...