Selasa, 23 Juli 2019

PW Sumbar Songsong Majelis Syuro XIII (Kongres Nasional) Pemuda Muslimin Indonesia


Jakarta, PemudaMusliminNews — Pemuda Muslimin Indonesia dirikan di Yogyakarta, 25 November 1928 atas kepeloporan tokoh-tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia-PSII (sekarang Syarikat Islam Indonesia) yakni Agus Salim, S.M. Kartosuwiryo, A.M. Sangadji, Muhammad Sardjan, Samsuridjal, Abdul Gani, dan Soemadi diinisiasi sebagai jawaban atas keluhan S.M. Kartosuwiryo selepas mengikuti Kongres Pemuda II, bahwa belum ada organisasi kepemudaan yang merepresentasikan kepentingan pemuda Islam.
Perjalanannya telah memberi sumbangan besar dan mewarnai kehidupan negeri ini. Lama berjalan, banyak yang tampak, lama hidup banyak yang dirasa begitu ungkapan di Minangkabau. Tentu saja gelombang perjalanan itu ada pasang dan surut, riak dan gelombangnya.
Tekanan rezim otoritarian Orde Baru adalah masa-masa kelam yang dilalui oleh pergerakan ini. Mengalami stagnasi dalam melahirkan kader-kader persyarikatan, menyebabkan daerah yang bertahan hanya tinggal tiga wilayah, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
Sepuluh tahun yang lalu, dengan mengumpulkan kembali kader-kader yang ada, Pemuda Muslimin Indonesia kembali menata Organisasi Induk dengan menyelenggarakan Kongges Nasional ke XI. Konggres (Majelis Syuro) akhirnya memutuskan untuk mengamanahkan kepada Muhtadin Sabili menggawangi Organisasi.
Dengan segala keterbatasan yang dihadapkan dengan tantangan yang berat, akhirnya dalam sepuluh tahun ini Pemuda Muslimin Indonesia sudah berada di 28 wilayah dan memiliki lebih kurang 230 cabang. Tidak mudah dan gampang membagun kembali Organisasi kader ini dengan tantangan yang berat dan dihadapkan perubahan-perubahan yang begitu cepat yang perlu disikapi dengan mengseiramakan antara gerak organisasi dan kondisi eksternal yang ada.
Sejarah adalah modal penting yang tidak boleh diabaikan, tetapi ke depan tumbuh dan berkembangnya organisasi jauh lebih penting. Romantisme dan romantika sejarah tidak boleh menjadi penjara untuk bergerak ke depannya. Perubahan yang datang begitu cepat memberikan tantangan baru yang terus dicermati. Karena itu konggres menjadi instrument sangat penting untuk evaluasi dan merumuskan gerak ke depannya. Modal historis menjadi alat evaluasi untuk terus berbenah. Setidaknya ada sembilan isu yang bisa dijadikan alat evaluasi untuk itu :


1. Daya Dorong
2. Idiologi
3. Kepemimpinan
4. Struktur Organisasi
5. Sumber Daya Kader
6. Basis Finansial
7. Jaringan
8. Unit Pendukung Tekhnis
9. Image
Kongres Nasional yang ke XIII ini diharapkan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menghasilkan keputusan-keputusan untuk persyarikatan ini, bukan hanya memutuskan siapa yang dipercayakan untuk menjadi nakhoda untuk lima tahun yang akan datang. Akan tetapi mampu untuk mengevaluasi gerakan dan memutuskan langkah-langkah strategis dalam memainkan peran di kehidupan berbangsa dan bernegara ke depannya.
Semoga para pejuang yang terus mewujudkan cita-cita perkumpulan ini dari sejak didirikan sampai pada hari ini, curahan tenaga, fikiran dan pengorbanan harta akan dicatat oleh Allah sebagai amal shaleh dan nilai jihad disisi-Nya. Aamiin.


Fataqulloha Mastaho'tum
Billahi Fie Sabililhaq

Oleh : Ardinal Bandaro Putiah
Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muslimin Indonesia
Sumatera Barat.
Share:

PILIHAN REDAKSI

Muhtadin Sabili Ditetapkan Jadi Ketua Umum PB Pemuda Muslimin Lewat Aklamasi

Bogor, PemudaMuslimin-News.Com — Forum tertinggi organisasi Majelis Syuro (Kongres Nasional) Pemuda Muslimin Indonesia  menyepakati dan m...

Terbaru