Senin, 28 Mei 2018

Kisah Kopi, Kantuk dan Tarawih

ESAI, PemudaMusliminNews - Minum kopi telah menjadi gaya hidup, tak hanya di kalangan tertentu, atau batasan usia khusus. Tren ini telah melanda semua kalangan. Di Makassar, hampir setiap ruas jalan, bisa kita temukan tempat minum kopi dengan berbagai level dan harga. Mengunjungi kedai kopi sudah menjadi rutinitas warga kota.

Meski demikian populer, mungkin tak banyak yang tahu bahwa nama kopi berasal dari bahasa Arab, “qahwa”. Pada awalnya, istilah ini tidak merujuk pada tanaman tertentu tetapi digunakan pada sejenis minuman yang terbuat dari biji yang diseduh dengan air panas. Bahkan ada informasi yang menjelaskan bahwa pada awalnya qahwa mengacu ke salah satu jenis minuman dari anggur (wine). 


Kita tidak menemukan informasi sejak kapan qahwa digunakan untuk menyebut minuman kopi, tapi yang pasti hampir semua istilah terkait minuman ini, mengacu ke qahwa. Seperti “kahve” dalam bahasa Turki, “koffie” di bahasa Belanda, “café” di bahasa Perancis , “caffè” di bahasa Italia, “coffee” di bahasa Inggris, “kia-fey” di bahasa Cina, “kehi” di bahasa Jepang, dan “kawa” di bahasa Meayu . 


Kita Indonesia memilih menggunakan istilah kopi. Mengenai penggunaan kata ini, para ahli berselisih pendapat, ada yang bilang bahwa kita menyerap langsung dari Arab dengan melihat hubungan Nusantara dengan Hadramaut yang sudah terjalin sejak lama. Ada pula yang berpendapat bahwa kita menyerapnya dari kata dalam bahasa Belanda  “koffie”, dengan berkaca pada fakta bahwa Belanda lah yang pertama kali membuka perkebunan kopi di Indonesia.  


Kopi, selain populer, juga kontroversial. Saat Frederick yang Agung (Friedrich der Große) alias Frederick II dari dinasti Hohenzollern, yang berkuasa di kerajaan Prusia antara 1740 sampai 1786, pernah mengeluarkan manifesto pada tahun 1777 yang berisi dukungan pada minuman tradisional Prusia, bir, yang terancam oleh popularitas kopi.


“Menjijikkan melihat meningkatnya kuantitas kopi yang dikonsumsi rakyatku, dan implikasinya, jumlah uang yang keluar dari negara kita. Rakyatku harus minum bir. Sejak nenek moyang, kemuliaan kita dibesarkan oleh bir,” demikian kata raja yang digelari Fritz Tua (Der Alte Fritz) oleh rakyat Prusia, tulis http://tengkuputeh.com.


Tak hanya di Prusia, kopi juga dicerca di Prancis karena mulai menggusur dominasi wine. Menurut Linda Civitello, dokter-dokter dari Prancis membuat catatan buruk tentang kopi. Begini kata mereka, “…dengan penuh kengerian bahwa kopi membuat orang tak lagi doyan wine.” tulis Linda dalam Cuisine and Culture: A History of Food and People, pada 1679.


Bahkan, Sejarawan Prancis, Michelet, dikutip Mark Pendergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World, menengarai bahwa kopi membuat pengaruh besar dalam arah sejarah peradaban manusia, termasuk salah satu di antaranya adalah terjadinya Revolusi Prancis yang idenya bergulir dari kedai-kedai kopi.


Mungkin kenyatan itu pula yang membuat, King George II yang berkuasa di adalah Raja Britania Raya, Raja Irlandia, dan Elektor Hanover mulai 22 Juni 1727 sampai kematiannya pada 1760, memusuhi kopi. Pemilik nama George Agustunus ini sampai minta kedai kopi ditutup karena dirinya jadi bahan olok-olok para penikmat kopi.


Tak sampai di situ, seperti dikutip dari laman https://tengkuputeh.com, nasib kopi di London kian tragis. Pada tahun 1674, lahir Women’s Petition tahun 1674, sebentuk protes karena dua hal: pertama, kaum lelaki lebih banyak menghabiskan waktu di kedai kopi; kedua, mereka menuntut agar kaum wanita boleh ke kedai kopi sebagaimana di Prancis. 


Bahkan, Raja Inggris Charles II harus jatuh dari kekuasaan karena protes sosial warga London. Protes ini berawal dari kebijakan penguasa kerajaan Inggris, Skotlandia, dan Irlandia pada 1649-1651 yang mengeluarkan pernyataan tentang Pelarangan Kedai Kopi pada 29 Desember 1675. Alasan Charles sederhana, kedai kopi membuat mengabaikan tanggungjawab sosial serta mengganggu stabilitas kerajaan.


Berbeda dengan Eropa, kalangan masyarakat Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah yang lebih dahulu mengenal minuman ini, memperlakukan kopi dengan istimewa dan menjadi salah satu komoditi andalan Ethiopia yang masuk melalui pelabuhan Mocha di Yaman, lalu menyebar di seluruh daratan Arab, dan wilayah kekuasaan Islam setelahnya.


Syahdan, sebagaimana dikisahkan oleh Ustadz Muhammad Husein Al Habsyi, dengan mengutip kitab Tadzir an-Nas, suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi jumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Lalu terjadilah dialog berikut ini.


Ia berkata kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.” Nabi Muhammad Saw. kemudian bersabda: “Aku akan memberimu 3 hadits:

1. Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu.
2. Barangsiapa yang menyimpan tasbih untuk digunakan berdzikir maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang banyak berdzikir, baik ia gunakan tasbihnya atau tidak.
3. Barangsiapa yang duduk bersama waliyullah yang hidup atau yang sudah wafat maka pahalanya sama saja dengan ia menyembah Allah di seluruh penjuru bumi.”

Pada tulisan yang sama, dengan merujuk at-Tadzkir al-Mushthafa li Aulad al-Musthafa wa Ghairahum min Man Ijtbahu Allahu Washthafa karya al-Habib Abubakar al-Atthas bin Abdullah bin Alwi bin Zain al-Habsyi halaman 117, Ustadz Muhammad Husein Habsyi juga menceritakan kisah Al-Habib Abubakar bin Abdullah al-Atthas tentang kopi. 


Dalam kitabnya, Al-Habib Abubakar bin Abdullah al-Atthas menulis, “Sesungguhnya tempat yang ditinggalkan dalam keadaan sepi atau kosong maka jin akan menempatinya. Sedangkan tempat yang biasa digunakan untuk membuat hidangan kopi maka para jin takkan bisa menempati dan mendekatinya."


Juga  masyhur dikisahkan pengalaman Syeikh Abul Hasan asy-Syadzili RA, seorang ulama besar dan kaya-raya, murid dari seorang wali yang sangat karomah, Syeikh Abdullah al-Masyisyi. Seperti saat asy-Syadzili harus mengamalkan wirid dan harus menahan wudhunya sampai 40 malam tanpa batal. 


Dengan memohon petunjuk Allah, beliau bermimpi didatangi Rasulullah SAW dan seraya bersabda: “Hai Abul Hasan.. ini saya bawakan biji-bijian yang banyak terdapat di tempatmu. Jemurlah! Goreng kering hingga menjadi lunak, kemudian tumbuk sampai lembut. Sesudah itu, seduh dengan air mendidih. Air itulah yang kau minum setiap malam. Insya Allah kamu tidak akan mengantuk”.


Esoknya, tahulah beliau bahwa biji yang ditunjukkan Rasulullah adalah biji kopi. Sejam minum kopi itu, beliau mampu menahan kantuk beberapa malam, bahkan 40 malam.


Laman http://muslimmoderat.net juga merilis bahwa dalam sebuah kesempatan, Habib Umar mengatakan, “Saya suka kopi itu karena kopi adalah minuman kesukaan para Wali, kesukaan orang-orang shalih." Sontak perkataannya disambut tawa oleh hadirin. Saking senangnya dengan kopi, lanjut Habib Umar, seorang wali pernah mengatakan, “Barang siapa yang mati, diperutnya ada sisa-sisa kopi, ia tidak akan ditanya oleh malaikat.”


Aku menulis masalah kopi ini sebab lagi mengalami masalah dengan rasa kantuk yang selalu menyerang saat aku mendengar ceramah tarawih, hingga salat tarawih berjamaah ditegakkan. Bukankah kopi bisa menjadi solusi? Berbekal botol kecil berisi kopi, mungkin saja aku bisa lebih khusyuk beribadah malam.


Bukankah menarik bila kita bisa menyeruput seteguk dua teguk kopi hitam kental sambil mendengar ceramah tarawih, atau di antara empat rakaat salat tarawih kita bisa mencecap kopi moka atau menenggak kopi latte sambil membincang satu dua hadits atau atsar para sahabat, sebelum menegakkan empat rakaat berikutnya. 


Ini bukan harapan yang muluk, kan?

Muhammad Kasman, S.E., M.Si. Ketua II Pimpinan Besar Pemuda Muslimin Indonesia 2014 - 2019.
Share:

PILIHAN REDAKSI

Pemuda Muslimin Indonesia Sikapi Insiden Pembakaran Bendera Tauhid di Garut

JAKARTA, PemudaMusliminNews - Insiden pembakaran terhadap bendera Tauhid dengan tulisan "Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah&quo...

Kabar Viral

Kantor redaksi

Redaksi Pemuda Muslim News | Jl. Tanjung Duren Barat 3 No. 1B, RT 06 / RW 05, Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat 11470 | Phone: +62 21 56943151 | Faks: +62 21 56943154 | eMail: pemudamuslimin@gmail.com | Portal: http://pemudamuslimin-news.com