Senin, 19 Juni 2017

Pancasila Dengan Ilham Al-Qur’an, Akan Mengalahkan Paham Sekuler

OPINI, PemudaMuslimNews - Dewasa ini, bidang sosial suatu bangsa memiliki kondisi secara umum dengan ditinjau dari aspek agama dan politiknya. Aspek ini juga  berkaitan erat dengan upaya mencapai percepatan pembangunan suatu negara karena tingkah laku masyarakat setempat yang di pengaruhi oleh agama dan politik tersebut.

Pernyataan presiden RI, pada pemberitaan di salah satu media yang begitu viral bahwa urusan agama dan urusan politik, tidak boleh menyatu. Ini di sebabkan, dipicu oleh gambaran kondisi politik pada pemilihan umum kemarin di berbagai daerah.  Kondisi stabilitas negara tidak aman. Makanya pernyataan ini terdengar sampai ditengah-tengah masyarakat Indonesia.
Berikut ini, pernyataan Presiden saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017), seperti dikutip Antara.

"Memang gesekan kecil-kecil kita ini karena pilkada, karena pilgub, pilihan bupati, pilihan wali kota, inilah yang harus kita hindarkan. Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik.”

Maka jelaslah secara nyata bahwa bangsa ini telah menganut paham sekuler. Sebuah paham yang memisahkan tentang persoalan agama dengan politik.

Kehadiran sebuah ideologi atau paham ini, masuk menyerang negara, bahkan sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.

Sehingga dapat  menunjang kebebasan  memilih dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.

Merujuk kepada suatu anggapan ini bahwa aktivitas dan penentuan manusia, terutamanya yang politis, harus didasarkan pada apa yang dianggap sebagai bukti konkret dan fakta, dan bukan berdasarkan pengaruh keagamaan.

Rousseau mengatakan, bahwa sepanjang sejarah, negara yang kuat ditegakkan di atas keyakinan agama. Orang yang berjuang untuk negara sekaligus berjuang untuk agama, perjuangan untuk negara itu menjadi perjuangan yang luhur. Kalau dasarnya agama, orang akan mengorbankan jiwa dan raganya demi negara.

Dr. Jalaluddin Rakhmat (2013:75) menggambarkan didalam tulisannya “Puasa dalam Proses Penyempurnaan Diri”  bahwa seperti halnya anak-anak muda Iran yang antre meminta izin kepada Imam Al-Khumaini untuk bisa berjihad membela negara. Mereka tidak hanya membela negara, tetapi – yang paling utama – adalah membela agama.

Makanya Rouseau mengingatkan adanya sebuah ideologi yang dasarnya agama. Tidak ada pertentangan antara ideologi negara dan ideologi agama. Ideologi negara bersatu menjadi ideologi agama.

Namun apa yang terjadi pada bangsa atau bumi pertiwi kita? Terusik pada tatanan praktis negara yang menganut paham sekuler bangsa kita, telah nyata melukai dasar falsafah negara dan bangsa ini, sebagai negara yang memiliki corak beraneka ragam agama dan budaya.

Terdengar pula baru-baru ini,  bahwa Pendidikan agama akan di tiadakan atau dihapuskan, padahal kita tahu secara history pendidikan agama merupakan salah satu cara perjuangan dalam memerdekaan Indonesia.

Apa yang membuat hal ini terjadi? Tentu budaya sebagai corak jati diri bangsa sendiri dikoyak dan dirusaki oleh budaya asing yang liar masuk begitu bebas. Sehingga paham sekuler menjadi pemegang kendali.

Kendati hal ini, H. Muhammad Chasan Ibrahim (2015:110) di dalam bukunya “Indonesia Yang Di Kehendaki” menyatakan bahwa sangat disayangkan adanya kebudayaan asing yang mengalir dengan pesat di negara Indonesia tanpa adanya seleksi yang ketat sehingga dapat kita lihat pada kehidupan generasi sekarang yang sikap, ucap, cara berpakaian, gerak dan tingkah laku mereka sudah hampir lepas dari kebudayaan bangsanya sendiri.

Agama dan politik yang di bangun dalam perjuangan, kini begitu muda para antek-antek sekutu asing yang menjabat sebagai pemimpin negara membiarkan untuk merusak masuk ke bumi pertiwi. Tak memasang jaring untuk menangkap para penjajah yang punya kekuatan teknologi yang hebat, yang piawai dalam praktik ekonomi sehingga kapitalis-kapitalisnya menjadi miliuner dan telah nyata mereka menjadi penjajah yang terampil. Karena kesempatan yang di berikan oleh stoke holder bangsa ini.

Maka bukan hal yang mustahil lagi yang dapat kita lihat dalam kejadian sekarang ini. Degradasi moral bangsa hilang, jati diri bangsa hilang, yang pada akhirnya asing akan kembali menjajah bumi pertiwi dan menguasai kembali layaknya pada penjajahan ratusan tahun silam yang lalu.

Peristiwa ketakutan dan kekacauan ini jangan sampai terjadi! Layaknya pada Joe Sacco yang dia gambarkan dalam komiknya dengan judul “aman Goradze Perang di Serbia Timur 1992-1995.”

Menyatakan bahwa Sinisme dan humor hitam yang dikelilingi oleh kematian dan kekacauan untuk menangkis penderitaan. Gambaran-gambarannya tajam, visi realistis tentang dunia abu-abu yang suram dari suatu negeri yang dirusakkan oleh peluru-peluru artileri dan dicacatkan oleh kemiskinan. (The New York Times).

Sekarang, lihat pula di teluk arab bergejolak karena adu domba,  suatu negara yang beragama dengan mayoritasnya yang memiliki suku dan budaya kuat. Tetapi ketimpangan dihadapkannya dan perang saudara jadi bumerangnya. Peristiwa-peristiwa ini adalah gambaran kondisi suatu negara di dunia yang membidik negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan negara yang memiliki mayoritas pemeluk agama yang banyak. Yang nantinya akan menjadi sasaran oleh para zionis-zionis adikuasa dan sekutunya.

Apakah bangsa ini juga ingin merasakan serupa atas apa yang dirasakan oleh bangsa-bangsa lain? Tentunya kita tidak mau menginginkan hal ini terjadi. Maka salah satu caranya adalah bangsa ini harus keluar dari keterpurukan ini, yakni tetap menjaga Pancasila sebagaimana mestinya.

Karena nilai-nilai Ideologi Pancasila memiliki nilai-nilai yang tidak keluar dari koridor Al-Qur’an. Terlihat pada setiap sila-sila dari Pancasila sebagai berikut.

Sila yang Pertama, Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti bahwa adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.s. 26:11).  “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”(Q.s. 112:01).

Sila yang Ke-Dua, Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti bahwa kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Q.s. 05:02). “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (Q.s. 95:04).

Sila yang Ke-Tiga, Nilai Persatuan Indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Q.s.  49:13). “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. “(Q.s. 49:10).

Sila yang Ke-empat, Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang mengandung makna bahwa suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah untuk mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. “ (Q.s. 49:38). “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.” (Q.s. 58:11).

Sila yang Ke-Lima, Nilai keadilan sosial bagi  seluruh rakyat Indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur secara lahiriah ataupun batiniah. Berdasarkan dari nilai tersebut, keadilan adalah nilai yang sangat mendasar yang diharapkan dari seluruh bangsa Indonesia. “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?“. (Q.s. 03:71).  “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.  Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Q.s. 16:180)

Oleh karena itu, Pancasila sebagai konstitusi dengan mengilhamkan Al-Qur’an pada dasar agama yang jelas (Islam). Akan mengalahkan paham sekuler. Sebab, Itulah Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.s. 2:2). Yang nantinya sebagai penopang dan pengintervensi dalam menjaga suatu falsafah negara Indonesia. Tentu ini semua hanya untuk mengembalikan keutuhannya sebuah bangsa sebagaimana mestinya karena adanya nilai Pancasila yang luhur.

Dengan demikian, bangsa dan negara ini akan memperoleh jati dirinya kembali sebagai bangsa yang bermartabat. Ketika kembali kepada dasar falsafah negara yaitu Pancasila yang berlandaskan Al-Qur’an sebagai Azas tertinggi didalam kehidupan rakyat Indonesia.

Ahmad Abdul Basyir. Ketua Bidang Kaderisasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Kab. Takalar.
Share:

PILIHAN REDAKSI

Pemuda Muslimin Indonesia Sikapi Insiden Pembakaran Bendera Tauhid di Garut

JAKARTA, PemudaMusliminNews - Insiden pembakaran terhadap bendera Tauhid dengan tulisan "Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah&quo...

Kabar Viral

Kantor redaksi

Redaksi Pemuda Muslim News | Jl. Tanjung Duren Barat 3 No. 1B, RT 06 / RW 05, Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat 11470 | Phone: +62 21 56943151 | Faks: +62 21 56943154 | eMail: pemudamuslimin@gmail.com | Portal: http://pemudamuslimin-news.com