Minggu, 14 Mei 2017

Saefulloh; Tidak Ada Itu Islam Radikal

JAKARTA, PemudaMusliminNews - Saefulloh  Ketua III PB Pemuda Muslimin Indonesia mengkritisi munculnya isu radikalisme dalam kontestasi pilkada Jakarta tempo lalu. Menurutnya, isu tersebut tidak benar, dan menyesatkan. Karena Islam radikal yang dituduhkan muncul pada pilkada Jakarta sesungguhnya tidak pernah ada. Isu tersebut hanya untuk mendiskreditkan ummat Islam, semata-mata demi kepentingan politik sesaat saja.


Pernyataan itu disampaikan Saefulloh saat hadiri Undangan Milad di Markaz Istirhami, Cipanas kabupaten Cianjur, jawa Barat, Sabtu (13/5).

Sejak lama, menurut Saefulloh, antara  umat Islam dan Indonesia, sudah berhubungan dengan harmonis. Umat Islam bahkan banyak melakukan pengorbanan demi tetap teguhnya  Nusantara. Salah satunya dibuktikan dengan lahirnya “Tentara Kandjeng Nabi Muhammad” Pada masa lalu, sikap tegas dan pembelaan umat Islam dalam memprotes segala bentuk penghinaan terhadap Rasulullah juga pernah dilakukan secara massif dan besar-besaran.

Ribuan aktivis dan tokoh-tokoh Islam, bergerak serentak melakukan Apel Akbar di Surabaya pada 6 Februari 1912, menyikapi pelecehan yang dilakukan oleh sebuah media massa yang dikelola oleh kelompok kebatinan-kejawen-sekular yang bernama Djawi Hisworo.

Aktivis kebatinan-kejawen-sekular yang pada masa itu dekat dengan kelompok Theosofi dan Freemasonry, yang bergerak dalam selubung kebangsaan, membuat sebuah media massa berbahasa Jawa bernama Djawi Hisworo.

Pada edisi 8-11 Januari 1918, media tersebut memuat artikel yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai pemabuk dan pemadat. Artikel yang berjudul “Percakapan Antara Marto dan Djojo” tersebut menggemparkan kota Surakarta dan membuat geram para aktivis Central Sarekat Islam. Penyebutan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai pemabuk dan pemadat memancing reaksi keras kaum Muslimin di tanah Jawa.

Sebuah Rapat Akbar umat Islam yang dipelopori oleh Central Sarekat Islam digelar di Surabaya pada 6 Februari 1918. Rapat akbar tersebut dihadiri oleh ribuan umat Islam, yang kemudian menyepakati dibentuknya sebuah satuan khusus yang bertugas untuk melawan segala bentuk penistaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Satuan khusus tersebut kemudian diberi nama “Tentara Kandjeng Nabi Muhammad” dan dipimpin oleh tokoh dan ideolog Sarekat Islam Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.  (Sekarang; Syarikat Islam Indonesia), Selain HOS Tjokroaminoto dan beberapa aktivis Sarekat Islam lainnya, di antara anggota Tentara Kandjeng Nabi Muhammad adalah tokoh dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.

Dalam dokumen resminya, tujuan berdirinya Tentara Kandjeng Nabi Muhammad atau Tentara Kandjeng Rosoel, antara lain, “Mencari persatuan lahir batin antara segenap kaum Muslimin, terutama sekali yang tinggal di Hindia Belanda, dan untuk menjaga dan melindungi kehormatan Islam, kehormatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta kehormatan kaum Muslimin”.

Terbentuknya satuan khusus Tentara Kandjeng Nabi Muhammad di Jawa ini kemudian mendapat sambutan luas di berbagai daerah. Berbagai aksi digelar untuk mendapat dukungan dan dana.

Pada 24 Februari 1918, Tentara Kandjeng Nabi Muhammad kemudian melakukan berbagai aksi protes di beberapa wilayah di Jawa dan sebagian di Sumatera yang diikuti oleh ratusan ribu massa kaum Muslimin.

Pembentukan satuan khusus ini menurut Sarekat Islam, semata-mata adalah isyarat agar pihak di luar Islam tidak lagi semena-mena melakukan penghinaan terhadap Rasulullah dan untuk menjaga kehormatan dan martabat Ummat Islam.

Keberadaan Tentara Kandjeng Nabi Muhammad kemudian mendapat reaksi keras dari para aktivis kebatinan-kejawen-sekular. Untuk menandingi satuan khusus umat Islam tersebut, mereka kemudian membentuk Komite Nasionalisme Jawa(Comitte voor het Javaansche Nationalisme). Jadi, upaya membela kemuliaan Islam dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di negeri ini sejatinya memiliki akar sejarah yang kuat. Umat Islam di negeri ini pada masa lalu juga memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela harkat dan martabat Islam.

Jika saat ini ada Front Pembela Islam (FPI), maka pada masa lalu juga ada Komite Pembela Islam. Jika sekarang ada Laskar Pembela Islam, maka pada era dulu juga ada Tentara Kandjeng Nabi Muhammad. Dari dulu hingga kini, bahkan sampai Hari Kiamat, siapapun yang melecehkan Islam akan terus mendapatkan perlawanan.

Jadi, jangan coba-coba memantik api, jika tak ingin terbakar! Karena itu, menurut Saefuloh tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Islam Indonesia itu radikal dan Tidak ada itu Islam Radikal hanya buatan dan karangan mereka saja yang membenci Islam, Pungkasnya. (Yuseph)
Share:

PILIHAN REDAKSI

Pemuda Muslimin Indonesia Sikapi Insiden Pembakaran Bendera Tauhid di Garut

JAKARTA, PemudaMusliminNews - Insiden pembakaran terhadap bendera Tauhid dengan tulisan "Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah&quo...

Kabar Viral

Kantor redaksi

Redaksi Pemuda Muslim News | Jl. Tanjung Duren Barat 3 No. 1B, RT 06 / RW 05, Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat 11470 | Phone: +62 21 56943151 | Faks: +62 21 56943154 | eMail: pemudamuslimin@gmail.com | Portal: http://pemudamuslimin-news.com